Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Masa yang Akan Datang serta Peta Perekonomian Indonesia
1. Bagaimanakah Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Masa yang Akan Datang?
Strategi dan perencanaan pembangunan ekonomi indonesia di masa yang akan datang mengacu pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) mengamanatkan agar pembangunan wilayah Indonesia dapat dilaksanakan secara seimbang danserasi antara dimensi pertumbuhan dengan dimensi pemerataan, antara pengembangan Kawasan Barat dengan Kawasan Timur Indonesia, serta antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan. Hal ini dimaksudkan agar kesenjangan pembangunan antar wilayah dapat segera teratasi melalui pembangunan yang terencana dengan matang, sistematis, dan bertahap.
Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang terpadu, terarah dan holistik, maka pendekatan pengembangan wilayah untuk pembangunan nasional ditempuh dengan instrumen penataan ruang, yang terdiri dari perencanaan, pembangunan (pemanfaatan ruang) dan pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang merupakan landasan ataupun acuan kebijakan dan strategi pembangunan bagi sektor-sektor maupun wilayah-wilayah yang berkepentingan agar terjadi kesatuan penanganan yang sinergis sekaligus mengurangi potensi konflik lintas wilayah dan lintas sektoral.
Strategi pengembangan wilayah nasional untuk pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil, antara lain:
- Mengembangkan ekonomi daerah dan nasional melalui pengembangan sektor-sektor unggulan
- Mengembangkan kawasan perbatasan sebagai ”beranda depan” negara dan pintu gerbang internasional yang menganut keserasian prinsip-prinsip ekonomi (Prosperity) serta pertahanan dan keamanan (Security).
- Mengembangkan keterkaitan ekonomi antar daerah melalui pengembangan sistem jaringan transportasi yang mencakup sistem jaringan jalan, rel, pelabuhan laut, dan bandar udara yang melayani pengembangan ekonomi kawasan andalan dan kota-kota, sehingga terwujud struktur ruang wilayah nasional yang utuh dan kuat dalam kerangka negara NKRI.
- Mengembangkan dukungan sumberdaya air
untuk dapat mengelola pembangunan ekonomi wilayah secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
- Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
- Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
- Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
- Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda - untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders. Dalam hal ini instrument pengaturan bagi wilayah pesisir perlu dirumuskan sebagai turunan dan bagian yang tidak terpisahkan dari UU 24/1992 tentang Penataan Ruang.
Dengan strategi dan perencanaan dalam rangka pembangunan ekonomi di Indonesia, diharapkan dapat berjalan sebagaimana semestinya dan akan berhasil mencapai hasil yang terbaik.
sumber : http://www.penataanruang.net/taru/Makalah/Men_%20101203,Makalah.pdf
2. Berilah Contoh Tentang Peta Perekonomian di Suatu Daerah di Indonesia! (Keadaan Geografis, Kependudukan, Mata Pencaharian, Pariwisata). Contoh kasus : Sulawesi.
KOTA PARE-PARE
A. Keadaan Geografis
- Letak
Kota Parepare dengan Parepare sebagai Ibu kota yang berjarak sekitar + 155 km dari Kota Makassar yang secara administratif terdiri atas 3 kecamatan dan 21 kelurahan. Luas wilayah mencapai 99.33 km2 denganbatas wilayah sebelah utara dengan kabupaten Pinrang, sebelah timur dengan kabupaten Sidrap, sebelah selatan dengan Kabupaten Barru dan sebelah barat dengan Selat Makassar.
- Topografi Wilayah dan Iklim
Kondisi topografi wilayah Kota Parepare pada umumnya berupa pantai dan perbukitan (dataran tinggi). Berdasarkan catatan stasiun klimatologi, rata-rata temperatur Kota Parepare sekitar 28,5oC dengan suhu minimum 25,6 oC dan suhu maksimum 31,5 oC. Kota Parepare beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau pada bulan Maret sampai bulan September dan musim hujan pada bulan Oktober sampai bulan Februari.
- Waktu
Waktu yang digunakan di Kota Parepare adalah WITA atau Waktu Indonesia bagian Tengah yakni 1 jam lebih cepat dari waktu ibukota negara Jakarta dan 8 jam lebih cepat dari Greenwich Mean Time (GMT).
B. Kependudukan
- Demografi
Dengan luas 99.33 km2, Kota Parepare terbagi atas 3 kecamatan yaitu kecamatan Bacukiki dengan luas sekitar 79,70 km2 atau 80% total luas wilayah Kota Parepare dengan 9 kelurahan, kecamatan Ujung dengan luas 11,30 km2 terdiri atas 5 kelurahan dan kecamatan Soreang seluas 8,33 km2 dengan 7 kelurahan. Penduduk di Kota ini didominasi oleh empat etnis yaitu Bugis, makassar, Mandar dan Toraja namun budaya dan adat istiadat yang dominan adalah budaya Bugis.
C. Mata Pencaharian
Sebagai kota jasa dan niaga, denyut nadi perekonomian Kota Parepare banyak bertumpu pada sektor perdagangan, dan salah satu sektor usaha yang cukup menjanjikan di Kota Niaga ini adalah sektor usaha rumah tangga atau home industry. Banyak usaha rumah tangga yang ditekuni warga, salah satunya Roti Mantou, sebagai penganan khas Parepare.
Roti khas ini telah menjadi salah daya tarik bagi mereka yang berkunjung ke Parepare. Meski bentuknya sama dengan roti pada umumnya, begitu juga bahan yang digunakan yaitu terbuat dari terigu, namun warnanya yang putih menyerupai tahu yang dibungkus dalam plastik, telah menjadi sesuatu yang menarik bagi para warga yang datang ke kota ini.
Selain itu, kota Pare-Pare juga berpotensi pada banyak hal, antara lain :
Perikanan
Nilai Produksi Perikanan laut dan darat di Kabupaten Pare-pare;
Produksi subsektor perikanan darat dari tambak 41.6 ton sedangkan laut 43.302 ton.
Nilai produksi perikanan laut sebesar Rp 19.708.000,-
Perikanan darat yang terdiri dari tambak air payau sebesar Rp 1.279.750,-
Luas areal pemeliharaan ikan menggunakan tambak dengan luas kotornya 675 ha dan luas bersih 620 ha.
Pertanian
Pada tahun 2007 produksi padi sebesar 4.261 ton, dengan luas panen 942 hektar. Produksi tanaman palawija, seperti Jagung sebesar 469 ton luas panen 418 hektar, jumlah produksinya 534 ton, Kedelai produksi 10 ton, dengan luas panen 10 hektaredan kacang hijau 23 ton dengan luas panen 23 hektare.
D. Pariwisata
Salah Satu potensi pariwisata Kota Parepare yang belum terkelola dengan baik adalah kebun raya Jompie. Kelestarian kebun raya yang tahun 2010 lalu mendapat penghargaan sebagai hutan kota terbaik keenam di Indonesia ini, tetap terjaga dan menjadi paru-paru kota. Kebun raya Jompie yang dibangun sejak tahun 1920 menyimpan keanekaragaman hayati serta menjadi obyek wisata dan pusat penelitian tumbuhan tropis, terutama tanaman endemik Sulawesi.
Kawasan yang dulunya bernama Celebes Tour ini memiliki luas 13,5 hektar dan bagian dari kompleks Hutan Alitta. Lokasinya terletak di Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Soreang dengan jarak dari pusat Kota Parepare sekitar 3,5 kilometer. Letak kebun raya Jompie sangat strategis karena muda dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Menariknya lagi, kawasan kebun raya Jompie sangat dekat dengan akses jalan menuju Kabupaten Pinrang dan Sidrap.
Dalam kawasan ini terdapat beberapa fasilitas fisik, antara lain kolam renang, 14 unit shelter (tempat istirahat), arena perkemahan (camping ground), gedung pertemuan, saluran drainase, dan jalan setapak yang menjangkau setiap sudut kawasan.
Keaneragaman tumbuhan di kawasan ini menurut analisis dari Tim Analisis Vegetasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terdiri dari 90 jenis yang berasal dari 81 marga tumbuhan. Sebanyak 7 jenis diantaranya telah teridentifikasi secara lengkap. Sepuluh jenis baru diketahui marganya, dan tiga jenis baru teridentifikasi sampai pada tingkat suku. Beberapa diantaranya diketahui sebagai tumbuhan langka.
Selain itu, terdapat Pantai Lumpue memiliki pemandangan khas pantai tropis, dengan pohon kelapa yang melambai-lambai dan disisi kanan terdapat bukit batu yang menjulang. Di sebelah bukit batu ini (sekitar 100 meter dari Pantai Lumpue) juga tendapat Pantai Tonrangeng yang tidak kalah cantik dengan pasir putihnya.
Di Pantai Tonrangeng anda juga dapat menikmati pemandangan laut lepas dan sekumpulan perahu-perahu tradisional khas suku Bugis milik masyarakat sekitar.
Demikianlah sedikit penjelasan tentang Kota Pare-Pare, ternyata kota tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak keindahan alam yang sangat indah di Indonesia dan berpotensi besar untuk maju dan berkembang.
sumber :
http://www.sulsel.go.id/indo/statis-11-kab-kota.html
http://www.pareparekota.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=122&Itemid=313
http://www.pareparekota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1022:jompie-magnet-pariwisata-parepare-masa-depan&catid=108:clean-and-green-city&Itemid=299
http://edyworld.blogspot.com/2009/09/wisata-kota-parepare.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar