Review Jurnal Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
ANTI MONOPOLI dan PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
Nama / NPM : Agustina Sapriyani /20210346
Cyntia Citra Ramadani /28210869
Ni Wayan Kristi Gayatri /24210953
Rafael Yoab /
R. Syah Putra Alam /25210485
Rissa Dwi Rizqia /26210057
Kelas : 2EB05
ANALISIS KELAYAKAN PENGGABUNGAN USAHA
PT PELINDO I
DAN PT PELINDO II
ABSTRAK
Dalam rangka memperkuat
kinerja BUMN, Pemerintah mencoba melakukan privatisasi dalam berbagai bentuk,
antara lain: penjualan saham seluruhnya atau sebagian, penggabungan (merger)
dan lain-lainnya. Salah satu privatisasi yang ingin dilakukan Pemerintah adalah
penggabungan udaha Pelindo I dan Pelindo II menjadi Pelindo Kawasan Barat.
Adapun tujuan penggabungan tersebut adalah memperkuat kepengusahaan pelabuhan
di Indonesia. Namun, penggabungan tersebut tidaklah mudah untuk dilaksanakan,
karena terkait dengan peraturan-peraturan seperti undang-undang persaingan
usaha, kelayakan penggabungan usaha dan apakah penggabungan tersebut dapat
memberikan nilai tambah kepada pemilik (pemerintah). Untuk itulah, paper ini
mencoba untuk mengkaji pakah kedua BUMN tersebut layak digabungkan?
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Merger secara luas dapat diartikan
adalah bentuk pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan lainnya, pada
saat kegiatan usaha dari kedua perusahaan tersebut disatukan. Sedangkan
pengertian yang lebih sempit adalah penggabungan sumber-sumber daya yang ada
pada kedua perusahaan menjadi satu bentuk usaha yang diharapkan bersama (Coyle,
2002). Dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan untuk memperoleh keuntungan
yang optimal, banyak perusahaan di Indonesia melakukan penggabungan usaha yang
sejenis untuk menguasai pasar yang ada. Namun, seringkali penggabungan yang
terjadi justru mengakibatkan perusahaan baru hasil dari penggabungan tersebut
menjadi tidak menguntungkan atau tidak sesuai dengan harapan semula.
Hasil studi yang dilakukan Samosir
(2003) dalam Analisis Kinerja Bank Mandiri Setelah Merger dan Sebagai Bank
Rekapitalisasi (Kajian Ekonomi dan Keuangan, Maret 2003) tentang penggabungan
empat bank badan usaha milik negara (BUMN) yaitu Bank Exim, Bank BDN, Bank BBD,
dan Bank Bapindo menjadi Bank Mandiri, menunjukkan kinerja Bank Mandiri setelah
merger tidak memiliki dampak yang sehat. Disamping itu, merger tidak selalu
menciptakan efisiensi, walaupun peningkatan total aktiva dapat mencapai skala
ekonomis, belum cukup untuk menciptakan efisiensi Bank Mandiri.
Beberapa waktu yang lalu yaitu
pada tahun 2001, pemerintah mencoba untuk menggabungkan perusahaan milik negara
atau badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dibidang pelabuhan wilayah
Sumatera, Banten, Jakarta dan Jawa Barat yaitu PT Pelabuhan Indonesia I (PT
Pelindo I) dan PT Pelabuhan Indonesia II (PT Pelindo II). Adapun tujuan dari
penggabungan tersebut adalah meningkatkan kinerja pengelolaan jasa
kepelabuhanan agar lebih efisien dan optimal, sekaligus dapat mendukung
peningkatan daya saing barang produksi Indonesia di tingkat global, artinya
pemerintah memandang perlu untuk menata ulang manajemen kepelabuhanan melalui
upaya restrukturisasi organisasi kepelabuhanan secara nasional.
1.2 Perumusan Masalah
Penelitian Berdasarkan pemikiran dan
latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka yang menjadi pokok
permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah:
1) Apakah penggabungan PT Pelindo II dengan PT Pelindo I akan
menciptakan kinerja keuangan yang semakin membaik?
2) Apakah layak kedua BUMN tersebut digabungkan menjadi Pelabuhan
Kawasan Barat di Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah
dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai antara lain:
1)
Untuk mengidentifikasi kinerja keuangan yang tercapai dari hasil penggabungan
kedua BUMN tersebut;
2) Untuk mengetahui kelayakan penggabungan usaha kedua BUMN
tersebut.
3) Skenario kontribusi terhadap APBN dengan kondisi sebelum dan
sesudah digabung.
1.4 Metode Penelitian
Untuk
mengetahui kelayakan penggabungan pada kedua perusahaan pelabuhan ini, maka
terlebih dahulu dianalisis efisiensi melalui Data Envelopment Analysis (DEA).
Tujuan metode DEA adalah mengetahui seberapa besar kinerja masing-masing cabang
yang ada di masing-masing Pelindo. Setelah diketahui efisiensi relatifnya,
selanjutnya penilaian aspek manajerial dengan menggunakan konsiderasi nilai weakness,
nilai timbang dan nilai kinerja. Semakin positif nilai yang dihasilkan, maka
semakin layak perusahaan tersebut untuk digabung atau dimerger.
Metode Data
Envelopment Analysis (DEA) Salah satu
aspek yang digunakan untuk menentukan kinerja suatu unit kegiatan ekonomi
adalah efisiensi ekonomi. Efisiensi ekonomi ini dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu efisiensi teknis (technical efficiency) dan efisiensi alokasi (allocation
efficiency ). Efisiensi teknis merupakan kapasitas produksi unit kegiatan
ekonomi untuk memproduksi tingkat output yang maksimum dari input dan
teknologi yang tetap.
Di lain pihak, efisiensi alokasi
merupakan kemampuan unit ekonomi dalam memperhitungkan tingkat nilai produk
marjinal (marginal value product) dan biaya marjinal (marjinal cost).
Apabila besaran efisiensi ini dapat dikualifikasikan maka dapat diperoleh
beberapa manfaat untuk pertama, membandingkan tingkat efisiensi
antarunit ekonomi unit ekonomi yang sama, kedua mengukur berbagai
variasi efisiensi antarunit ekonomi untuk mengidentifikasi faktor-faktor
penyebabnya, serta ketiga, untuk menentukan implikasi kebijakan sehingga
dapat meningkatkan tingkat efisiensinya.
Metode Kelayakan Penggabungan dengan Nilai Manajerial Analisis nilai adalah
suatu analisis yang menghasilkan nilai kuantitatif yang diperoleh atas dasar
penentuan nilai weakness dan nilai timbang terhadap tujuh aspek yang ada
di PT Pelindo II dan PT Pelindo I yaitu: aspek transportasi, aspek organisasi
dan sumber daya manusia, aspek keuangan, aspek kepengusahaan, aspek operasional
pelabuhan, aspek legalitas, serta aspek politik. Nilai weakness maupun nilai
timbang masing-masing aspek ditentukan berdasarkan hasil analisis, intuisi, dan
pertimbangan yang akomodatif. Berdasarkan hasil penilaian dari kedua perusahaan
terhadap ketujuh aspek tersebut kemudian dibuat rata-rata. Dari perkalian nilai
weakness rata-rata dan nilai timbang rata-rata akan dihasilkan nilai kinerja
yang merupakan nilai, besaran atau angka untuk dipergunakan sebagai bahan
pertimbangan bagi para pengambil kebijakan.
Definisi, Motif dan Pertimbangan Merger
Merger adalah suatu keputusan untuk
mengkombinasikan/menggabungkan dua atau lebih perusahaan menjadi satu
perusahaan baru. Dalam konteks bisnis, merger adalah suatu transaksi yang
menggabungkan beberapa unit ekonomi menjadi satu unit ekonomi yang baru. Proses
merger umumnya memakan waktu yang cukup lama, karena masing-masing pihak perlu
melakukan negosiasi, baik terhadap aspek-aspek permodalan maupun aspek
manajemen, sumber daya manusia serta aspek hukum dari perusahaan yang baru
tersebut. Oleh karena itu, penggabungan usaha tersebut dilakukan secara drastis
yang dikenal dengan akuisisi atau pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan
lain.
Motif perusahaan-perusahaan untuk melakukan merger sebenarnya
didasarkan atas pertimbangan ekonomis dan dalam rangka memenangkan persaingan
dalam bisnis yang semakin kompetitif. Cost saving dapat dicapai karena
dua atau lebih perusahaan yang memiliki kekuatan berbeda melakukan
penggabungan, sehingga mereka dapat meningkatkan nilai perusahaan secara
bersama-sama.
Merger juga dimaksudkan untuk
menghindarkan perusahaan dari risiko bangkrut, di mana kondisi salah satu atau
kedua perusahaan yang ingin bergabung sedang dalam ancaman bangkrut.
Penyebabnya bisa karena miss management atau karena faktor-faktor lain
seperti kehilangan pasar, keusangan teknologi dan/atau kalah bersaing dengan
perusahaan-perusahaan lainnya. Melalui merger, kedua perusahaan tersebut akan
bersama menciptakan strategi baru untuk menghindari risiko bangkrut.
Perusahaan yang menerima penggabungan akan menerima/mengambil alih
seluruh saham (shares/stocks), harta kekayaan (assets), hak (rights),
kewajiban, dan utang (liabilities) perusahaan-perusahaan yang
menggabungkan diri.
Merger juga dimaksudkan untuk mengarahkan perusahaan beroperasi
secara efisien. Bahkan motif ini sering dijadikan indikator utama (major
indicator) dari sebuah kebijaksanaan merger. Beberapa praktisi bisnis berpendapat
bahwa kebijaksanaan merger dapat dikatakan berhasil apabila merger tersebut
dapat paling sedikit menghasilkan apa yang disebut sinergitik (sinergy)
baru, dalam arti penggabungan dua perusahaan atau lebih tersebut di mana laba
yang dicapai akan jauh lebih besar dibanding laba yang dicapai secara
sendiri-sendiri ketika sebelum melakukan merger. Kondisi ini tentu akan
menaikkan tingkat efisiensi, karena pada dasarnya operating sinergy dapat
meningkatkan economy of scale, sehingga berbagai sumber daya yang ada
dapat saling melengkapi, dan koordinasi yang lebih baik antarberbagai tahap
produksi.
Hasil Analisis
3.1 Analisis Tingkat Efisiensi
Kantor-kantor Cabang Dalam rangka menghadapi arus
perdagangan dunia yang ditandai dengan berlakunya AFTA tahun 2003, maka cepat
atau lambat PT (Persero) Pelindo II dan Pelindo I dan akan menghadapi tantangan
yang besar sebagai akibat globalisasi di bidang pengangkutan laut. Untuk itu,
PT (Persero) Pelindo II dan Pelindo I sebagai badan usaha yang mengelola jasa
kepelabuhanan diharapkan dapat bertahan dan sekaligus dapat menangkap peluang
bisnis dengan hadirnya pelayaran asing yang datang ke Indonesia.
Agar dapat bertahan di era globalisasi
tersebut, kedua BUMN ini beserta jajaran (kantor cabang) harus efisien dalam
melaksanakan bisnis maupun pelayanan pengangkutan barang maupun penumpang.
Karena dalam situasi seperti itu, hanya bisnis entity yang efisien akan
mampu bertahan dan sebaliknya, apabila jajaran kedua Pelindo tersebut tidak
mampu melakukan efisiensi di tingkat operasional maka tak ayal lagi bisnis
pelayanan pengangkutan laut akan ditinggalkan oleh pelayaran asing yang membawa
barang maupun penumpang ke Indonesia.
3.2
Pengukuran Tingkat Efisiensi Relatif
Untuk
mengukur tingkat efisiensi relatif, digunakan dua pendekatan,yakni pendekatan
tingkat efisiensi fisik (input di-proxy dari jumlah SDM, kapasitas
dermaga, kapasitas gudang dan lapangan penumpukan, kapasitas alat bantu dan
bongkar muat, sedangkan output di-proxy dari arus penumpang, arus barang
dan arus kunjungan kapal), sementara pendekatan efisiensi keuangan, output di-proxy
dari tingkat perolehan laba kotor (earning before tax) dan total
pendapatan, dan input di-proxy dari total asset, biaya usaha,
modal usaha, dan total kewajiban meliputi utang jangka panjang dan jangka
pendek.
Dari analisis yang dilakukan pada
bab–bab sebelumnya, dapat ditarik koherensi hal-hal sebagai berikut:
1. Analisis keuangan dengan menggunakan metode DEA untuk mengukur
tingkat efisiensi keuangan relatif dimana input di-proxy dari total
aset, biaya usaha, modal usaha, dan total kewajiban yang meliputi hutang jangka
pendek dan jangka penjang dan output di-proxy dari laba kotor (earning
before tax) serta total pendapatan; menunjukkan bahwa di lingkungan PT
(Persero) Pelabuhan Indonesia II yang memiliki tingkat efisiensi keuangan
relatif didominasi oleh cabang-cabang kelas I seperti pelabuhan Palembang,
Teluk Bayur dan Pontianak. Sedangkan pelabuhan cabang kelas II hanya di
pelabuhan Banten. Di antara pelabuhan Utama yang memiliki tingkat efisiensi
keuangan relatif hanya di pelabuhan Panjang.
2. Analisis nilai manajerial terhadap merger didasarkan atas
konsideran nilai weakness, nilai timbang, dan nilai kinerja terhadap 3
aspek yang menjadi obyek penelitian yakni aspek keuangan, kepengusahaan, dan
operasional pelabuhan. Hasil akhir nilai kinerja secara totalitas menunjukkan
angka negatif. Kondisi demikian mengindikasikan sebagian dari ketujuh aspek di
atas masih perlu dilakukan pembenahan secara manajerial agar dapat memperbaiki
nilai weakness dan menaikkan nilai timbang.
Daftar Pustaka
__________, (2001), Laporan Rencana Jangka Panjang Perusahaan
Pelindo II
__________, (2001), Laporan Rencana Jangka Panjang Perusahaan
Pelindo I
__________, (2001), Laporan Keuangan Perusahaan Berbagai Terbitan
di Pelindo II dan Pelindo I
Anderson, David R., Sweeney, Dennis J. & William, Thomas A.,
(2002), Statistics for Business and Economics, Eight edition, Thompson
Learning, South Western.
B, Taufik, (2002), Mikroekonomi Untuk Kebijakan Publik,
Penerbit Pustaka Petronomika, Jakarta.
Benstein, Leopold A., (1974). Financial Statement Analysis:
Teory and Interpretation.
Caldwell, Anderson, Needles (1984). Principles of Accounting,
Houdhton Miffin Company Boston Dallas Geneva Illinois Hopewell, New Jersey
Dalto, Second Edition. Analisis
Kelayakan Penggabungan Usaha PT Pelindo I (Persero) dan PT Pelindo II (Persero)
Agunan P. Samosir
SUMBER:
http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5Cagunan-4.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar